Alhamdulillāh, alhamdulillāh.
Alhamdulillāhilladzī ja‘ala al-Muharram awwala asy-syuhūr.
Ashhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā sharīka lah, al-‘Azīzul Ghafūr.
Wa ashhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh, alladzī anqadana minaz-ẓulumāti ilan-nūr.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa man tabi‘a hudāhu wa taraka al-ma‘āṣī wal-fujūr.
Amma ba‘du.
Fayā ‘ibādallāh, usīkum wa iyyāya bitaqwāllāh faqad faḍala al-muttaqūn.
Qāla Allāhu Ta‘ālā: “Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indallāhi ithnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-arḍ, minhā arba‘atun ḥurum, dzālika ad-dīn al-qayyim.”
Hadirin kaum muslimīn rahimakumullāh, pertama-tama marilah kita berusaha meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Semoga kita selamat di dunia dan berbahagia di akhirat. Tahun hijriah, sebagaimana tahun masehi, merupakan fenomena alam. Kalender masehi mendasarkan perhitungan pada peredaran bumi mengelilingi matahari, sedangkan kalender hijriah mengacu pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Karena itu kalender hijriah disebut kalender kamariah, sementara kalender masehi disebut kalender syamsiah.
Namun di balik posisinya sebagai gejala alam, terdapat keistimewaan-keistimewaan karena agama menjadikannya demikian. Islam mengajarkan bahwa ada kelebihan tertentu antara satu bulan dengan bulan lainnya. Ayat di atas menjelaskan bahwa tidak semua bulan berkedudukan sama. Dalam Islam ada empat bulan haram: Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab. Karena kemuliaan bulan-bulan itu, Islam menganjurkan umatnya memperbanyak ibadah, puasa, zikir, dan sedekah.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Man ṣāma ākhira yaumin min Dhul-Ḥijjah wa awwala yaumin min al-Muharram faqad akmala as-sana al-māḍiyah wa bada’a as-sana al-muqbilah, ja‘alahullāhu kaffāratan li khamsīna sanah.” Barang siapa berpuasa sehari pada akhir Zulhijah dan sehari pada awal Muharram, maka ia menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa, dan Allah menjadikan kafarat dosanya selama 50 tahun.
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda: “Afdhalus-shiyām ba‘da Ramaḍān syahrullāhil-Muharram, wa afdhalus-ṣalāt ba‘dal-farīḍah ṣalātul-lail.” Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam. Penyebutan Muharram sebagai syahrullāh menunjukkan posisi bulan ini yang amat spesial.
Hari Asyura, tanggal 10 Muharram, disebut sebagai amalan yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Selain itu, puasa juga dianjurkan pada hari ke-9 (Tasu‘a) dan hari ke-11 Muharram. Amalan lain yang dianjurkan adalah memberi santunan kepada sesama muslim, anak yatim, dan berbuat baik kepada sesama manusia. Bulan mulia harus diisi dengan amal saleh.
Muharram adalah bulan yang bagus untuk mengawali tahun dengan perbuatan positif. Ia menjadi cerminan langkah awal kita untuk menapak 11 bulan berikutnya. Maka marilah kita memuliakan bulan ini dengan menjernihkan hati, membenahi perilaku, memperindah akhlak, serta meningkatkan amal ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Jagalah salat lima waktu dengan berjemaah, renungi perbuatan yang kurang baik untuk diperbaiki, tingkatkan amal yang sudah baik, dan jauhi segala bentuk kemaksiatan.
Semoga Allah membimbing kita menuju kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat, sesuai doa kita setiap hari:
“Rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā ‘adzāban-nār.”
Wahai Tuhan kami, berikanlah keselamatan di dunia, kebahagiaan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api neraka.
Mudah-mudahan khutbah ini memotivasi kita untuk menjaga bulan Muharram dengan amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan meraih keberkahan dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Semoga kita berbahagia di dunia dan di akhirat.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
