Alhamdulillāh, alhamdulillāh.
Alhamdulillāhilladzī naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyiāti a‘mālinā.
Man yahdillāh fa-lā muḍilla lah, wa man yuḍlil fa-lā hādiya lah.
Wa ashhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā sharīka lah, wa ashhadu anna sayyidanā Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi ajma‘īn.
Amma ba‘du.
Fayā ‘ibādallāh, uṣīkum wa nafsī al-mudhnibah bitaqwāllāh wa ṭā‘atihi la‘allakum tuf’liḥūn.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ṭalabul-ḥalāl wājibun ‘alā kulli muslim.”
Artinya: mencari sesuatu yang halal hukumnya wajib bagi setiap muslim.
Kebutuhan pokok manusia terdiri dari makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Dalam Islam kita diwajibkan untuk mendapatkannya dengan cara yang halal. Rezeki yang haram akan membawa keburukan bagi yang memakannya.
Dalam sebuah atsar disebutkan:
“Man akala al-ḥalāl aṭā‘at jawāriḥuhu syā’a am abā, wa man akala al-ḥarām ‘aṣat jawāriḥuhu syā’a am abā.”
Artinya: siapa yang memakan makanan halal, maka anggota tubuhnya akan taat baik ia kehendaki ataupun tidak. Dan siapa yang memakan makanan haram, maka anggota tubuhnya akan bermaksiat baik ia kehendaki ataupun tidak.
Karena itu, marilah kita mencari rezeki dengan jalan yang halal. Jangan kebutuhan duniawi membuat kita menghalalkan segala cara. Jika dalam rezeki halal saja masih ada hisab, bagaimana dengan rezeki haram? Sesungguhnya rezeki haram mendatangkan azab Allah.
Bekerja adalah bagian dari ibadah dan jihad. Jika seseorang bekerja dengan niat suci, taat kepada aturan Allah, untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, masyarakat, dan negara, maka itu bernilai ibadah. Bahkan keluar rumah untuk membiayai anak kecil disebut berusaha fī sabīlillāh. Jika bekerja untuk diri sendiri agar tidak meminta-minta, itu pun fī sabīlillāh. Tetapi jika bekerja untuk pamer dan bermegah-megahan, maka itu mengikuti jalan setan.
Dalam sebuah riwayat disebutkan:
“Man amsā min ‘amali yadaihi amsā maghfūran lah.”
Artinya: barang siapa di waktu sore merasa letih karena pekerjaan kedua tangannya mencari nafkah halal, maka diampunilah segala dosanya.
Orang yang letih mencari rezeki halal akan mendapat ampunan dari Allah. Bahkan sebagian orang saleh berkata:
“Di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat dihapus dengan salat, puasa, haji, atau umrah, kecuali dengan susah payah mencari rezeki halal.”
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memberikan jalan dan kemudahan bagi kita untuk mendapatkan rezeki dengan cara-cara yang halal.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
