Alhamdulillāh.
Alhamdulillāhilladzī amarana an naqīfa ḥudūdihi wa lā natajawwazahā fī ‘amalin minal a‘māl.
Aḥmaduhu Subḥānahu wa Ta‘ālā wa asykuruh.
Wa ashhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā sharīka lah, syahādatan taḥbītu al-jawāriḥa fī dā’iratil jāizi minal af‘āl.
Wa ashhadu anna sayyidanā wa nabiyyinā Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh, alladzī nafa al-kadhiba wa mā qāla.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad.
Amma ba‘du.
Ibādallāh, ittaqullāha wa aṭī‘ūhu la‘allakum tuf’liḥūn.
Saudara-saudara kaum muslimīn rahimakumullāh, melanggar larangan, melakukan kejahatan, mencari dan memakan harta dari jalan yang haram, serta berbagai maksiat lainnya kebanyakan dilakukan orang dengan sadar dan tahu. Mereka sadar mengerjakan perbuatan itu dan tahu pula bahaya yang akan timbul darinya. Begitu juga orang yang menyiakan kewajiban Allah, menolak kebenaran, tidak mau menerima agama Allah, tidak mau tunduk dan taat kepada-Nya. Semua itu dilakukan dengan sadar dan tahu.
Dalam istilah agama, hal itu dinamakan ‘alā ‘ilmin. Adapun jika dilakukan tanpa sadar dan tidak tahu, dinamakan ‘alā jahlin. Sedikit sekali orang yang melanggar larangan dan menyiakan kewajiban dengan tidak sadar. Karena itu hukum dunia tetap berlaku atas mereka, dan hukum akhirat lebih berat lagi.
Ada yang mengatakan bahwa orang melanggar larangan karena terpaksa. Misalnya mencuri karena lapar. Padahal banyak orang lapar tidak mencuri, bahkan ada orang kenyang tetap mencuri. Ada pula yang berkata tidak salat karena sibuk bekerja. Padahal banyak orang sibuk tetap salat, bahkan ada yang lapang tidak bekerja tetapi tetap meninggalkan salat.
Apakah sebab yang sebenarnya? Jawabnya ada dalam firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā:
“Afara’aita man ittakhadha ilāhahū hawāhu wa aḍhallahullāhu ‘alā ‘ilmin wa khatama ‘alā sam‘ihi wa qalbihi wa ja‘ala ‘alā baṣarihi ghishāwah, faman yahdīhi min ba‘dillāh, afalā tadhakkarūn.” (QS. Al-Jāthiyah: 23)
Artinya: Tidakkah engkau perhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan? Allah menyesatkannya dengan pengetahuan, menutup pendengaran dan hatinya, serta menutup penglihatannya. Maka tidak ada yang dapat memimpin dia sesudah Allah menyesatkannya.
Allah menurunkan agama untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Isi agama terdiri dari perintah dan larangan. Perintah mengandung manfaat, larangan mengandung mudarat. Namun hawa nafsu tidak suka pada perintah Allah dan justru suka pada larangan-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ḥuffatil-jannatu bil-makārih wa ḥuffat an-nāru bisy-syahawāt.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Artinya: Surga diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu.
Orang yang menurutkan hawa nafsu akan selalu melanggar larangan Allah dan menyiakan perintah-Nya. Inilah yang dinamakan mengabdi kepada hawa nafsu dan meninggalkan pengabdian kepada Allah. Maka orang yang demikian disebut menyembah hawa nafsu.
Oleh karena itu, hendaklah kita berhati-hati dalam segala amal dan kerja. Hendaklah kita kaum muslimin memperlihatkan dengan tegas bahwa kita hanya mengabdi semata-mata kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
