Alhamdulillāh.
Alhamdulillāhilladzī ja‘ala al-yawma maw‘idān wa wahaba abwābal-birrāt.
Aḥmaduhu Subḥānahu wa Ta‘ālā wa asykuruh.
Wa ashhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā sharīka lah.
Wa ashhadu anna sayyidanā Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā wa ḥabībinā wa nabiyyinā Muḥammad ﷺ.
Amma ba‘du.
Ibādallāh, faqad faẓal muttaqūn.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh, hari ini kita berada di penghujung hari-hari agung Zulhijah. Hari ini adalah bagian dari hari-hari tasyrik. Bahkan sebagian kaum muslimin pada tanggal 12 Zulhijah sudah hampir menutup suasana Idul Adha. Semoga kita terus belajar menjadi hamba-hamba Allah yang muttaqīn. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ayyāmu at-tasyrīq ayyāmu aklin wa shurbin wa dhikrillāhi Ta‘ālā.” (HR. Muslim)
Hari-hari tasyrik adalah hari makan, hari minum, dan berzikir kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Makna Hari Tasyrik
Hadis ini sangat dalam maknanya. Islam tidak melarang manusia menikmati makanan, kebahagiaan, dan kehidupan. Tetapi Islam mengajarkan agar di tengah kenikmatan dunia, hati kita jangan sampai kehilangan Allah.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah, masyarakat modern hidup dengan kelimpahan fasilitas, tetapi sering miskin makna. Rumah semakin besar tetapi hati semakin sempit. Teknologi semakin canggih tetapi jiwa semakin gelisah. Manusia terkoneksi dengan seluruh dunia tetapi terputus dari koneksi langit. Mereka berlomba terlihat sukses di hadapan manusia, tetapi lupa bagaimana mulia di hadapan Allah.
Hari tasyrik mengajarkan bahwa nilai manusia bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana ia mengingat Allah di tengah apa yang ia miliki. Karena itu Rasulullah ﷺ menambahkan kalimat dhikrullāh. Artinya makan boleh, bahagia boleh, kaya boleh, sukses boleh, tetapi jangan sampai semua itu mematikan hati kita di hadapan Allah.
Renungan
Ma‘āsyiral muslimīn, coba kita renungkan:
- Berapa banyak manusia yang tertawa setiap hari tetapi jiwanya lelah.
- Berapa banyak manusia terkenal tetapi tidak dikenal oleh Allah.
- Berapa banyak manusia sibuk membangun citra tetapi lupa membangun amal.
Di hari-hari tasyrik ini, Allah seakan mengingatkan: “Wahai manusia, setelah engkau menikmati dunia, apakah engkau masih mengingat Aku?” Hakikat hidup bukan sekadar panjang umur, tetapi apakah umur itu bernilai di sisi Allah. Bukan sekadar viral di dunia, tetapi apakah nama kita dikenal oleh Allah dan para malaikat di langit.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dikenang bukan karena kekayaannya. Nabi Ismail dikenang bukan karena popularitasnya, tetapi karena pengorbanan dan ketundukannya kepada Allah. Idul Adha dan hari tasyrik seharusnya melahirkan manusia yang lebih ikhlas, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.
Allah berfirman:
“Fa-dhkurūllāha ka-dhikrikum ābā’akum aw asyadda dhikrā.”
Maka berzikirlah kepada Allah sebagaimana kalian mengingat nenek moyang kalian, bahkan dengan zikir yang lebih banyak.
Pelajaran untuk Zaman Modern
Di era modern, manusia sering kehilangan rasa syukur karena sibuk membandingkan hidup dengan orang lain. Media sosial membuat manusia merasa kurang terus-menerus. Padahal Allah telah memberi nikmat yang luar biasa.
Hari tasyrik mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika hati merasa cukup bersama Allah. Banyak orang lelah bukan karena harta, tetapi karena kehilangan arah hidup. Mereka tahu cara mencari uang, tetapi tidak tahu cara mencari ketenangan. Tahu mempercantik penampilan, tetapi lupa memperbaiki hati.
Penutup
Karena itu, jadikanlah akhir hari-hari Zulhijah ini sebagai momentum hijrah rohani. Perbaiki salat, hubungan dengan keluarga, lisan, zikir, dan perbanyak syukur kepada Allah. Satu hari nanti dunia akan kita tinggalkan, jabatan selesai, harta berpindah tangan, tubuh melemah. Yang tersisa hanyalah amal dan kedekatan kita kepada Allah.
Jangan ukur hidup dengan angka-angka, tetapi dengan seberapa dekat kita kepada Allah, seberapa bermanfaat kita bagi sesama, dan seberapa tulus hati kita dalam beribadah. Semoga setelah hari tasyrik ini kita menjadi hamba yang lebih hidup hatinya, lebih kuat imannya, dan lebih bermakna di hadapan Allah.
Ya Allah, cukupkanlah hatiku dengan selalu mengingat-Mu.
Hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīm lī wa lakum wa lisā’ir al-muslimīn wal-muslimāt, fastaghfirūh, innahu huwa al-ghafūrur-raḥīm.
Apakah Anda ingin saya buatkan versi lebih singkat dari khutbah ini, semacam outline poin-poin, agar mudah dijadikan catatan kajian?
